Showing posts with label 1pg. Show all posts
Showing posts with label 1pg. Show all posts

March 30, 2013

1pg - Langit



1 Page Project

entry 2 : Langit



Menatap langit saat hujan turun adalah salah satu hal yang wajib di lakukan olehnya, tak peduli kondisi apapun Ia selalu menyempatkan diri untuk berdiri di tengah hujan. ‘Hanya iseng’ jawabnya kala teman-temannya bertanya dengan bingung terhadap hobi anehnya itu.
Namun sebenarnya itu hanya alasan kecilnya. Hanya iseng? Haish... jangan bercanda. Dia tak mungkin membiarkan seluruh tubuhnya basah dan membuat kesehatannya menurun hanya karena Ia iseng.
Tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin.
Jangan mengira aku hanya asal menebak. Tentu saja tidak! Aku sebagai teman terbaiknya tahu semua penyebab kebiasaan absurdnya itu sejak beberapa bulan yang lalu. Tepat saat pertama kali kita bertemu di bawah pohon itu.

March 14, 2013

1pg - Hujan


1 Page Project

entry 2 : Hujan


Aku mendongkak menatap langit yang tengah menangis. Aku masih terdiam di tempatku berdiri tanpa memperdulikan tetesan hujan membasahi seluruh tubuhku.

“Ini lebih baik” gumamku di tengah guyuran hujan yang menyamarkan lelehan air mataku.

“Kau mengerti ‘kan?” sosokmu kembali berucap. Aku kembali menatapmu, aku tersenyum kecil kala melihatmu yang tersenyum lebar walaupun keadaan tubuhmu tak berbeda jauh dari ku.

Sosokmu yang mungil itu tetap berdiri teguh di bawah guyuran hujan. Kau tetap tersenyum tak memperdulikan sepatumu, celana jeans mu, jaketmu, dan kerudungmu yang basah kuyup karena hujan.

“Hey! Jangan melamun!” Kau menjentikan jarimu tepat di hadapan wajahku yang sontak membuatku sadar dari lamunanku.

Aku kembali tersenyum. “Kau tak kedinginan? Berteduh saja sana,” ucapku sembari membetulkan letak jaketnya. Ia mengerucutkan bibirnya lucu, “Harusnya kamu juga bertanya pada dirimu sendiri. Kau ‘kan lebih dulu berdiri di sini daripada aku.”

December 20, 2012

1Pg - Kau


1 Page Project

entry 1 : Kau

Sosok itu kembali muncul di hadapanku yang tengah terdiam. Sosok itu masih tetap seperti dulu. Ia masih tetap terdiam mengamatiku.

Aku tidak seperti dulu… Aku tidak lagi mengejarmu. Aku juga mengikuti dirimu—terdiam mengamati sosok di hadapanku.

Tak seperti dulu… kini Kau tersenyum… tersenyum sedih menatapku. Aku hanya bisa tersentak kaget.

“Kau…” suaramu mengalun memenuhi pendengaranku, bumi seolah berhenti berputar detik itu juga kala Aku melihatmu keluar dari tempat itu.